Pendidikan multibahasa dan peningkatan kemampuan guru menjadi langkah penting untuk membuat pembelajaran bahasa lebih mudah dipahami oleh siswa.
JAKARTA, SPEAKTREE.ID – Belajar bahasa bukan hanya tentang menghafal kata dan mengerjakan soal. Siswa juga perlu memahami bacaan, berani berbicara, serta mampu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mendukung hal tersebut, SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL), lembaga yang berfokus pada pengembangan pendidikan bahasa di Asia Tenggara, meluncurkan tiga dokumen penting tentang pendidikan multibahasa, kemampuan membaca, dan peningkatan kualitas guru bahasa Inggris.
Peluncuran ini dilakukan dalam acara The 17th Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL ke-17) di Jakarta pada 27 Oktober 2026.
Tiga dokumen tersebut terdiri atas panduan pendidikan multibahasa untuk kawasan Asia Tenggara serta dua risalah kebijakan yang membahas peningkatan kemampuan membaca siswa dan kualitas guru bahasa Inggris di sekolah dasar.
Belajar dengan Bahasa yang Dipahami
Pernahkah kamu merasa kesulitan memahami pelajaran karena bahasa yang digunakan guru berbeda dari bahasa yang biasa kamu gunakan di rumah?
Misalnya, seorang siswa sehari-hari berbicara menggunakan bahasa Bugis, Makassar, Jawa, atau bahasa daerah lainnya. Ketika belajar di sekolah, ia harus memahami materi dalam bahasa Indonesia. Ia juga mungkin mulai belajar bahasa Inggris.
Perbedaan bahasa tersebut terkadang membuat siswa membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pelajaran.
Karena itu, SEAQIL mengembangkan panduan bernama Southeast Asian Roadmap on Multilingual Education (SEA-MLE Roadmap). Secara sederhana, panduan ini merupakan peta jalan untuk membantu negara-negara Asia Tenggara mengembangkan pendidikan yang memperhatikan keberagaman bahasa siswa.
Melalui pendidikan multibahasa, siswa dapat dibantu memahami konsep dasar menggunakan bahasa yang paling mereka kuasai. Setelah itu, kemampuan mereka dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya dikembangkan secara bertahap.
Artinya, bahasa daerah bukan penghalang untuk maju. Bahasa yang sudah dikuasai siswa justru dapat menjadi jembatan untuk mempelajari bahasa lain.
Enam Hal Penting dalam Pendidikan Multibahasa
SEA-MLE Roadmap memiliki enam bagian utama yang menjadi perhatian dalam pengembangan pendidikan multibahasa.
- Akses pendidikan. Setiap siswa perlu memperoleh kesempatan untuk belajar, termasuk siswa yang menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
- Pembelajaran. Materi dan cara mengajar perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa agar pelajaran lebih mudah dipahami.
- Guru. Guru perlu mendapatkan pelatihan dan dukungan agar mampu mengajar siswa dengan latar belakang bahasa yang beragam.
- Kebijakan. Pemerintah perlu membuat aturan dan menyediakan dukungan yang membantu pelaksanaan pendidikan multibahasa.
- Data. Informasi tentang kebutuhan dan kemampuan siswa perlu digunakan untuk merencanakan serta memperbaiki pembelajaran.
- Komunitas. Keluarga dan masyarakat juga perlu ikut mendukung proses belajar, termasuk dengan menjaga penggunaan bahasa daerah dan mendorong anak mempelajari bahasa lain.
Keenam bagian ini saling mendukung. Pendidikan bahasa tidak cukup hanya mengandalkan siswa dan guru, tetapi juga membutuhkan bantuan sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Kemampuan Membaca Juga Harus Ditingkatkan
Selain pendidikan multibahasa, SEAQIL meluncurkan risalah kebijakan tentang penguatan peran guru bahasa dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa.
Literasi adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari bacaan. Jadi, seseorang yang memiliki kemampuan literasi yang baik tidak hanya bisa membaca tulisan, tetapi juga memahami maksudnya, menemukan informasi penting, dan memikirkan kembali isi bacaan tersebut.
Sebagai contoh, ketika membaca berita tentang lingkungan, siswa tidak cukup hanya mengetahui judulnya. Mereka juga perlu memahami penyebab masalah, dampaknya, serta tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Kajian yang menjadi dasar risalah tersebut dilakukan melalui diskusi di Aceh Besar, Makassar, dan Ternate pada 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa guru membutuhkan pemahaman yang lebih kuat tentang literasi dan cara mengajar yang membantu siswa memahami teks.
Ada tiga langkah yang direkomendasikan, yaitu menyamakan pemahaman guru tentang literasi, meningkatkan kemampuan guru melalui pengembangan profesional, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan membaca dan belajar.
Dengan dukungan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya membaca lebih banyak, tetapi juga semakin terampil memahami informasi.
Guru Bahasa Inggris Perlu Lebih Siap
Dokumen ketiga membahas kebutuhan peningkatan kemampuan guru bahasa Inggris yang inovatif dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa.
Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan usia anak. Anak-anak, misalnya, dapat belajar melalui gambar, permainan, cerita, lagu, percakapan sederhana, dan kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Karena itu, guru perlu mendapatkan pelatihan yang tepat. Pemerintah juga didorong untuk memperkuat pendidikan calon guru, mempercepat pemenuhan kebutuhan guru bahasa Inggris di sekolah dasar, serta memberikan pelatihan bagi guru yang belum memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris.
Guru juga perlu mampu menyesuaikan cara mengajar dengan kemampuan setiap siswa. Ada siswa yang cepat memahami kosakata baru, sementara siswa lainnya membutuhkan lebih banyak contoh dan latihan.
Perbedaan tersebut perlu diperhatikan agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang.
Teknologi Harus Membantu Siswa Belajar
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam peningkatan kualitas pendidikan.
Teknologi dapat membantu guru menyediakan bahan belajar yang lebih menarik. Siswa, misalnya, dapat menggunakan video pembelajaran, kamus digital, atau latihan bahasa interaktif untuk menambah pengetahuan.
Namun, penggunaan teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Guru tetap perlu memilih alat dan materi yang sesuai dengan tujuan belajar serta kebutuhan siswa.
Dengan demikian, teknologi seharusnya menjadi alat bantu untuk memperjelas pelajaran, bukan sekadar digunakan karena sedang populer.
Apa Artinya bagi Pelajar?
Peluncuran ketiga dokumen tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan bahasa membutuhkan kerja sama banyak pihak.
Bagi siswa, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan mulai sekarang. Biasakan membaca buku atau berita, diskusikan isi bacaan dengan teman, gunakan bahasa Indonesia dengan baik, dan terus pelajari bahasa daerah maupun bahasa Inggris.
Jangan takut melakukan kesalahan saat belajar bahasa baru. Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, selama kita mau memperbaikinya.
Sementara itu, guru, sekolah, keluarga, dan pemerintah perlu bekerja sama agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pada akhirnya, tujuan belajar bahasa bukan sekadar mendapatkan nilai tinggi di sekolah. Kemampuan berbahasa dan memahami bacaan dapat membantu siswa berpikir lebih kritis, mengenal budaya lain, menyampaikan pendapat, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Informasi lebih lanjut: Dokumen SEA-MLE Roadmap dan dua risalah kebijakan dapat diakses melalui situs resmi SEAQIL.
Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), berita “SEAQIL Luncurkan SEA-MLE Roadmap, Risalah Kebijakan Literasi dan Kebijakan Bahasa Inggris”, 27 Oktober 2026.
