Pendidikan anak Indonesia menghadapi tantangan yang semakin beragam. Perkembangan teknologi, perubahan cara berkomunikasi, serta perubahan lingkungan sosial membuat anak perlu memiliki kemampuan yang lebih dari sekadar menghafal pelajaran di sekolah. Hal tersebut menjadi perhatian peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyoroti bagaimana pendidikan anak Indonesia perlu menghadapi arus perubahan yang berlangsung cepat dan semakin kompleks. Anak Perlu Dipersiapkan Menghadapi Perubahan Dunia anak saat ini berbeda dengan pengalaman orang tua mereka ketika masih bersekolah. Anak dapat memperoleh informasi dengan sangat mudah melalui internet, media sosial, video, dan berbagai platform digital. Perubahan ini memberikan banyak peluang untuk belajar. Namun, anak juga perlu dibekali kemampuan untuk memilih informasi, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Karena itu, pendidikan anak tidak cukup hanya berfokus pada nilai akademik. Kemampuan memahami masalah, bekerja sama, beradaptasi, dan mengambil keputusan juga menjadi bagian penting dalam menghadapi masa depan. Peran Orang Tua Sama Pentingnya dengan Sekolah Pendidikan anak Indonesia bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah. Orang tua juga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak. Hal sederhana seperti mengajak anak berdiskusi, mendengarkan pendapatnya, membiasakan membaca, serta memberikan contoh perilaku yang baik dapat menjadi bagian dari pendidikan di rumah. Orang tua juga tidak harus selalu menjadi “guru” bagi anak. Terkadang, menjadi pendengar yang baik justru lebih dibutuhkan. Ketika anak mengalami kesulitan dalam belajar atau menghadapi masalah, komunikasi yang terbuka dapat membantu anak merasa aman untuk bercerita. Teknologi Harus Menjadi Alat Belajar Teknologi bukan sesuatu yang harus selalu dijauhi oleh anak. Jika digunakan dengan tepat, teknologi justru dapat menjadi sarana belajar yang menarik. Anak dapat memanfaatkannya untuk mencari informasi, belajar bahasa, membaca buku digital, mengikuti pembelajaran, hingga mengembangkan kreativitas. Namun, pendampingan tetap diperlukan. Orang tua dapat membantu anak memahami bahwa tidak semua informasi di internet benar dan tidak semua hal yang menarik untuk dilihat bermanfaat untuk diikuti. Dengan begitu, anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak. Sekolah Perlu Mengembangkan Kemampuan Anak Perubahan zaman juga membuat sekolah perlu terus beradaptasi. Pembelajaran dapat diarahkan agar anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, mencoba, dan memecahkan masalah. Kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi semakin penting bagi anak. Artinya, keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi nilai ujian seorang siswa. Perkembangan karakter dan kemampuan menghadapi kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan. Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua? Orang tua tidak perlu melakukan sesuatu yang rumit untuk mendukung pendidikan anak Indonesia. Beberapa kebiasaan sederhana dapat dilakukan di rumah, seperti: Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak. Biasakan anak membaca dan mencari informasi. Ajarkan anak memeriksa kebenaran informasi. Berikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat. Dampingi penggunaan teknologi dan internet. Ajarkan tanggung jawab melalui kegiatan sehari-hari. Hargai proses belajar, bukan hanya hasil atau nilai. Yang paling penting, orang tua dan sekolah dapat saling bekerja sama. Pendidikan Adalah Persiapan untuk Masa Depan Perubahan zaman tidak dapat dihentikan. Karena itu, anak perlu dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Pendidikan yang baik bukan hanya membuat anak mengetahui banyak hal, tetapi juga membantu mereka menjadi pribadi yang mampu belajar, berpikir, bekerja sama, dan menghadapi masalah. Bagi orang tua, hal ini menjadi pengingat bahwa pendidikan anak dimulai bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dari lingkungan rumah. Sementara bagi anak, belajar bukan sekadar mendapatkan nilai bagus. Belajar adalah proses untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang terus berubah. Dengan kerja sama antara anak, orang tua, guru, sekolah, dan lingkungan, pendidikan anak Indonesia dapat membantu generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi masa depan.
Penggunaan Media Sosial Sejak Dini Dikaitkan dengan Penurunan Prestasi Belajar Anak
Penggunaan Media Sosial Anak Menjadi Sorotan Penelitian Terbaru Penggunaan media sosial pada anak dan remaja kembali menjadi perhatian setelah sebuah riset terbaru yang diterbitkan pada Agustus 2026 menemukan adanya dampak negatif terhadap prestasi akademik. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak yang mulai memiliki akun media sosial pada usia lebih muda cenderung memperoleh hasil belajar yang lebih rendah dibandingkan siswa yang menunda penggunaan media sosial hingga usia yang lebih matang. Penelitian berjudul Longitudinal Effect of Early Social Media Use on Standardized Learning Outcomes During School Career tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Human Behaviour pada 3 Agustus 2026. Riset ini melibatkan 5.227 siswa di Italia utara dan menganalisis hubungan antara usia pertama menggunakan media sosial dengan perkembangan prestasi akademik mereka selama masa sekolah. Para peneliti membandingkan siswa yang mulai memiliki akun media sosial ketika berada di kelas 6, 7, atau 8 dengan siswa yang baru menggunakan media sosial pada kelas 9 atau setelahnya. Untuk meningkatkan keakuratan hasil, penelitian juga mempertimbangkan kemampuan akademik siswa sebelum menggunakan media sosial. Nilai Matematika dan Bahasa Mengalami Penurunan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial sejak usia dini memiliki hubungan negatif yang cukup kuat dengan hasil belajar, terutama dalam mata pelajaran matematika dan bahasa Italia. Siswa yang mulai menggunakan media sosial pada kelas 6 tercatat memperoleh nilai yang lebih rendah dibandingkan kelompok siswa yang menunda penggunaan media sosial. Ketika memasuki tingkat pendidikan berikutnya, kesenjangan tersebut tetap terlihat, bahkan dalam matematika pengaruh negatifnya menjadi lebih besar. Menurut hasil penelitian, siswa yang mulai menggunakan media sosial lebih awal menunjukkan penurunan kemampuan akademik yang setara dengan kehilangan sebagian waktu belajar dibandingkan siswa yang mulai menggunakan media sosial lebih lambat. Perbedaan tersebut menjadi perhatian karena terjadi dalam periode penting perkembangan kemampuan berpikir, konsentrasi, dan kebiasaan belajar anak. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan dampak negatif yang sama pada kemampuan bahasa Inggris. Para peneliti menduga bahwa banyaknya konten media sosial berbahasa Inggris dapat memberikan paparan tambahan terhadap kosakata dan penggunaan bahasa tersebut. Gangguan Konsentrasi Diduga Menjadi Salah Satu Penyebab Salah satu faktor yang diduga berperan adalah meningkatnya kebiasaan memeriksa telepon pintar dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Anak yang sering membuka media sosial dapat mengalami gangguan konsentrasi ketika belajar, mengerjakan tugas, maupun beristirahat. Media sosial dirancang untuk memberikan pembaruan secara cepat dan terus-menerus. Notifikasi, video pendek, serta berbagai bentuk konten baru dapat membuat pengguna terdorong untuk terus memeriksa perangkat mereka. Bagi anak dan remaja, kebiasaan tersebut berpotensi mengurangi waktu dan perhatian yang digunakan untuk belajar. Penelitian ini juga memberikan bukti bahwa penggunaan media sosial yang lebih awal tidak hanya berkaitan dengan satu hasil ujian tertentu, tetapi dapat memengaruhi perkembangan akademik dalam jangka waktu yang lebih panjang. Para peneliti menggunakan data nilai standar pada beberapa tahap pendidikan untuk melihat perkembangan siswa dari waktu ke waktu. Pentingnya Pendampingan Digital bagi Anak Temuan riset terbaru ini tidak berarti bahwa teknologi harus sepenuhnya dijauhkan dari anak. Media sosial dan internet juga dapat memberikan manfaat, seperti akses terhadap informasi, pembelajaran, kreativitas, dan komunikasi. Namun, hasil penelitian menunjukkan pentingnya pendampingan orang tua dan guru dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Anak perlu belajar menggunakan teknologi secara seimbang agar aktivitas digital tidak mengganggu pendidikan, waktu istirahat, maupun interaksi sosial secara langsung. Sekolah juga dapat mengambil peran dengan meningkatkan literasi digital. Pendidikan tentang penggunaan media sosial yang bertanggung jawab perlu diberikan sejak dini, termasuk mengenai pengelolaan waktu dan kemampuan menjaga fokus ketika belajar. Kesimpulan Riset terbaru tahun 2026 ini menambah bukti bahwa usia ketika anak mulai menggunakan media sosial dapat berkaitan dengan perkembangan prestasi belajar. Dengan melibatkan lebih dari lima ribu siswa, penelitian ini menemukan bahwa penggunaan media sosial sejak usia dini berhubungan dengan hasil yang lebih rendah dalam matematika dan bahasa Italia. Bagi orang tua dan pendidik, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi perlu digunakan secara bijak. Pendampingan, batasan waktu yang sehat, serta kebiasaan belajar yang baik dapat membantu anak memperoleh manfaat teknologi tanpa mengorbankan perkembangan pendidikan mereka. Sumber: Media Nature
Mengapa Bahasa Inggris Penting bagi Generasi Muda?
Bahasa Inggris Bukan Lagi Sekadar Mata Pelajaran Di tengah dunia yang semakin terhubung, kemampuan berbahasa Inggris kini memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah. Bahasa Inggris telah menjadi salah satu alat komunikasi global yang membuka akses terhadap informasi, pendidikan, teknologi, dan berbagai peluang pengembangan diri. Bagi generasi muda, kemampuan ini dapat menjadi salah satu keterampilan penting untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat. Saat ini, informasi tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar. Melalui internet, seseorang dapat mengakses pengetahuan, mengikuti perkembangan teknologi, mempelajari keterampilan baru, dan berinteraksi dengan orang dari berbagai negara. Dalam banyak situasi tersebut, kemampuan memahami dan menggunakan bahasa Inggris dapat memberikan akses yang lebih luas. Karena itu, belajar bahasa Inggris tidak seharusnya hanya berorientasi pada nilai akademik. Lebih dari itu, bahasa Inggris perlu dipandang sebagai keterampilan yang dapat membantu seseorang berkomunikasi, belajar, dan berkembang. Membuka Akses ke Dunia Pendidikan yang Lebih Luas Salah satu manfaat penting memiliki kemampuan bahasa Inggris adalah terbukanya akses terhadap berbagai sumber pembelajaran. Banyak buku, artikel, jurnal, kursus, video edukasi, dan materi pembelajaran tersedia dalam bahasa Inggris. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik, pelajar memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lebih banyak sumber pengetahuan dan mendapatkan perspektif yang lebih luas. Kemampuan ini juga dapat membantu generasi muda ketika mengikuti seminar, pelatihan, program pendidikan, maupun kegiatan yang melibatkan lingkungan internasional. Namun, menguasai bahasa Inggris bukan hanya tentang memahami teori atau menghafal kosakata. Kemampuan berbahasa yang baik mencakup kemampuan untuk memahami informasi, menyampaikan gagasan, dan berkomunikasi secara efektif. Oleh karena itu, proses belajar bahasa Inggris perlu mencakup beberapa keterampilan penting, yaitu: Listening atau kemampuan memahami bahasa Inggris yang didengar. Speaking atau kemampuan berkomunikasi secara lisan. Reading atau kemampuan memahami teks. Writing atau kemampuan menyampaikan ide melalui tulisan. Vocabulary atau penguasaan kosakata. Pronunciation atau kemampuan mengucapkan kata dengan jelas dan tepat. Pengembangan keterampilan tersebut secara seimbang dapat membantu pelajar menggunakan bahasa Inggris dengan lebih percaya diri dalam berbagai situasi. Bahasa Inggris dan Persiapan Karier Masa Depan Perkembangan dunia kerja juga menjadi salah satu alasan mengapa kemampuan bahasa Inggris semakin penting. Berbagai bidang profesional saat ini memiliki hubungan dengan informasi, teknologi, atau komunikasi yang melampaui batas negara. Kondisi ini membuat kemampuan untuk memahami bahasa Inggris menjadi nilai tambah bagi banyak individu. Bahasa Inggris dapat memberikan manfaat dalam berbagai bidang, termasuk: teknologi dan digital; bisnis dan kewirausahaan; pendidikan; pariwisata; pemasaran dan komunikasi; industri kreatif; penelitian; serta berbagai profesi lainnya. Tentu saja, kemampuan bahasa Inggris bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Namun, kemampuan tersebut dapat menjadi keterampilan pendukung yang membantu seseorang mengakses informasi, berkomunikasi dengan lebih luas, dan mempersiapkan diri menghadapi peluang yang tersedia. Bagi generasi muda, membangun kemampuan bahasa Inggris sejak dini dapat menjadi bagian dari persiapan jangka panjang. Tantangan Terbesar dalam Belajar Bahasa Inggris Adalah Rasa Takut Banyak pelajar sebenarnya sudah memiliki pengetahuan dasar bahasa Inggris. Mereka memahami sejumlah kosakata dan mengetahui beberapa aturan grammar. Namun, ketika diminta untuk berbicara, sebagian masih merasa ragu. Rasa takut melakukan kesalahan menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proses belajar bahasa Inggris. Takut salah mengucapkan kata, takut grammar tidak tepat, atau takut mendapatkan respons negatif dari orang lain sering kali membuat seseorang memilih untuk diam. Padahal, kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar. Tidak ada seseorang yang langsung mampu berbicara dengan lancar tanpa melalui proses latihan. Kemampuan berkembang melalui pengalaman, kebiasaan, koreksi, dan keberanian untuk mencoba kembali. Oleh karena itu, lingkungan belajar memiliki peran yang sangat penting. Pelajar membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa nyaman untuk bertanya, mencoba, dan melakukan kesalahan tanpa kehilangan kepercayaan diri. Belajar Bahasa Inggris Perlu Lebih dari Sekadar Menghafal Salah satu tantangan dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah ketika proses belajar terlalu berfokus pada teori. Grammar memang penting. Kosakata juga penting. Namun, bahasa pada dasarnya digunakan untuk berkomunikasi. Seseorang dapat memahami banyak aturan grammar, tetapi masih merasa kesulitan ketika harus berbicara dalam situasi nyata. Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris yang efektif perlu memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menggunakan bahasa secara aktif. Proses belajar dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, seperti: percakapan sederhana; diskusi; presentasi; permainan edukatif; membaca; mendengarkan percakapan; menulis; serta praktik dalam situasi sehari-hari. Semakin sering seseorang menggunakan bahasa Inggris, semakin besar kesempatan untuk membangun kelancaran dan kepercayaan diri. Konsistensi Lebih Penting daripada Belajar Secara Berlebihan Belajar bahasa Inggris tidak selalu membutuhkan waktu berjam-jam setiap hari. Dalam banyak kasus, kebiasaan belajar yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan perkembangan yang lebih baik dibandingkan belajar dalam jumlah besar tetapi hanya dilakukan sesekali. Pelajar dapat memulai dari langkah sederhana. Misalnya, mempelajari beberapa kosakata baru setiap hari, mendengarkan konten bahasa Inggris, membaca teks pendek, atau mencoba menggunakan kalimat sederhana dalam percakapan. Proses kecil yang dilakukan secara berulang dapat membantu bahasa Inggris menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Kunci utamanya adalah membangun hubungan yang positif dengan proses belajar. Bahasa Inggris seharusnya tidak selalu terasa sebagai materi yang sulit atau menegangkan. Dengan metode yang tepat, proses belajar dapat menjadi lebih aktif, menarik, dan relevan dengan kehidupan pelajar. Peran Lingkungan dalam Membangun Kepercayaan Diri Kemampuan berbahasa tidak hanya dipengaruhi oleh materi yang dipelajari, tetapi juga oleh lingkungan tempat seseorang belajar. Lingkungan yang positif dapat membantu pelajar merasa lebih nyaman untuk menggunakan bahasa Inggris. Ketika pelajar memiliki kesempatan untuk berbicara tanpa merasa takut dihakimi, mereka akan lebih berani mencoba. Dari keberanian tersebut, kemampuan dapat berkembang secara bertahap. Inilah alasan mengapa pembelajaran bahasa Inggris perlu memberikan ruang yang cukup untuk praktik. Pelajar tidak hanya membutuhkan materi. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk menggunakan apa yang telah dipelajari. Melalui praktik yang konsisten, kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi, pengalaman dapat meningkatkan kemampuan, dan keberanian dapat tumbuh menjadi kepercayaan diri. Bahasa Inggris sebagai Investasi untuk Masa Depan Di masa depan, perubahan akan terus terjadi. Teknologi berkembang. Cara belajar berubah. Dunia kerja juga semakin dinamis. Generasi muda membutuhkan berbagai keterampilan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, dan kemampuan bahasa menjadi bagian penting dalam proses pengembangan diri. Bahasa Inggris dapat menjadi salah satu keterampilan yang mendukung kemampuan-kemampuan tersebut. Bagi pelajar, bahasa Inggris dapat membantu membuka akses terhadap sumber pembelajaran yang lebih luas. Bagi mahasiswa, kemampuan ini dapat
Ternyata Main HP Nggak Selalu Bikin Otak “Lemot”, Lho!
SPEAKTREE.ID — Selama ini banyak yang bilang kalau kebanyakan main HP atau nonton layar itu bikin otak jadi malas mikir. Tapi, sebuah penelitian besar dari Finlandia yang mengikuti anak-anak selama 8 tahun malah menemukan hasil yang bikin banyak orang kaget! Penelitian Panjang, Hasil Mengejutkan Para ilmuwan dari Universitas Jyväskylä di Finlandia mengamati 260 anak (124 perempuan dan 136 laki-laki) sejak kecil sampai mereka remaja, dengan usia rata-rata di akhir penelitian sekitar 15-16 tahun. Mereka ingin tahu: apa hubungan antara waktu main layar, aktivitas fisik, dan kemampuan berpikir anak-anak saat remaja nanti? Hasilnya? Anak-anak yang punya waktu layar lebih banyak sejak kecil justru cenderung punya kemampuan berpikir (kognitif) yang lebih bagus saat remaja. Ini bertentangan dengan anggapan umum selama ini! Kok Bisa Gitu? Rahasianya Ada di “Jenis” Layarnya Menurut Petri Jalanko, peneliti yang memimpin studi ini, kuncinya bukan soal berapa lama kamu di depan layar, tapi apa yang kamu lakukan selama itu. Kalau waktu layarmu dipakai untuk hal-hal yang bikin otak aktif berpikir — seperti belajar hal baru, memecahkan masalah, main game strategi, atau bikin sesuatu yang kreatif — itu bisa membantu otakmu berkembang lebih baik. Jadi bukan cuma scroll-scroll pasif tanpa mikir. Intinya: layar itu ibarat alat. Bisa bermanfaat atau tidak, tergantung caramu memakainya. Lalu Bagaimana dengan Olahraga? Nah, di sini hasilnya agak unik dan berbeda antara cewek dan cowok: Anak perempuan: yang sering melakukan aktivitas fisik ringan (kayak jalan kaki, main santai) sejak kecil, punya memori kerja yang lebih bagus saat remaja. Anak laki-laki: yang lebih sering ikut olahraga terarah/terstruktur (seperti latihan tim atau kelas olahraga) sejak kecil, juga punya memori kerja yang lebih baik. Menariknya lagi, olahraga bebas yang dilakukan sendiri tanpa arahan justru dikaitkan dengan hasil kognitif yang lebih baik saat diukur lewat kuesioner. Tapi ketika aktivitas fisik diukur pakai alat sensor gerak, hasilnya tidak terlalu berhubungan dengan kemampuan berpikir. Para peneliti menduga ini karena sensor cuma bisa mendeteksi gerakan tubuh, tapi nggak tahu persis aktivitas apa yang sedang dilakukan seseorang. Jadi, Apa Pesan Pentingnya? Bukan berarti kamu boleh main HP seharian tanpa henti, ya! Pesan utama dari penelitian ini adalah soal keseimbangan: Tetap aktif bergerak dan berolahraga. Kalau pakai layar, usahakan untuk hal-hal yang membuatmu berpikir aktif — belajar, berkarya, atau memecahkan tantangan — bukan cuma scroll tanpa tujuan. Setiap orang (cewek maupun cowok) mungkin punya cara berbeda untuk menjaga kesehatan otaknya lewat aktivitas fisik. Para peneliti sendiri bilang, hasil ini menunjukkan hubungan, bukan berarti layar secara langsung “menyebabkan” otak jadi lebih pintar. Masih perlu penelitian lanjutan untuk memastikan sebab-akibatnya secara pasti. Sumber: Website dari Kampus University of Jyväskylä Jurnal Penelitian: Pediatric Exercise Science, 2026
Biar Gak Nyesel Nanti: California Wajibkan Literasi Keuangan untuk SMU!
SPEAKTREE.ID — Pernah merasa bingung soal cara ngatur uang, bayar pajak, atau takut ketipu pinjaman online? Banyak orang dewasa nyesel karena baru belajar kelola uang pas udah kerja. Nah, pemerintah California di Amerika Serikat (AS) pengen mutus rantai itu dengan cara keren: semua anak SMU wajib belajar literasi keuangan sebelum lulus! 💡 Poin Penting Utama Aturan Baru: Mulai musim gugur tahun 2027 nanti, seluruh siswa SMU negeri dan sekolah charter di California wajib lulus mata pelajaran Literasi Keuangan (durasi 1 semester). Negara Bagian ke-26: California resmi menjadi negara bagian ke-26 di AS yang menerapkan aturan ini. Secara total, sudah ada 30 negara bagian yang berkomitmen menjamin pendidikan literasi keuangan bagi remaja. Bukan Cuma Teori: Kurikulum ini mencakup 13 topik praktis, mulai dari cara buka rekening tabungan, kelola utang, baca slip gaji/pajak, sampai strategi investasi dana pensiun. Murid-Murid Sangat Antusias: Di wilayah yang sudah mencoba lebih dulu (seperti Fresno Unified), kelas ini malah jadi salah satu mata pelajaran pilihan paling favorit! Kenapa Pelajaran Ini Penting Banget? Menabung, investasi, dan belanja dengan bijak itu adalah life skill alias keterampilan hidup yang berguna selamanya. Gubernur California, Gavin Newsom, bilang: “Menabung untuk masa depan, berinvestasi, dan membelanjakan uang dengan bijak adalah keterampilan seumur hidup yang perlu dipelajari kaum muda sebelum mereka memulai karier — bukan setelahnya.” Daripada belajar dari kesalahan setelah kehabisan uang di masa dewasa, lebih baik para remaja dibekali ilmunya sejak dini di sekolah. 13 Skill Keuangan Nyata yang Bakal Dipelajari Siswa Materi yang diajarkan bukan sekadar rumus matematika yang membosankan, melainkan hal-hal nyata yang bakal dihadapi sehari-hari: Perbankan dasar: Cara buka rekening tabungan & giro, serta trik menghindari biaya administrasi yang mahal. Skor Kredit & Utang: Memahami hubungan antara utang, bunga, dan skor kredit. Pinjaman (Loans): Cara kerja pinjaman dan memilihnya secara bijak. Pajak Penghasilan: Cara baca slip gaji dan memahami formulir pajak. Investasi & Tabungan Masa Depan: Belajar soal saham, obligasi, reksa dana, index funds, hingga dana pensiun (seperti IRA dan 401(k)). Asuransi: Mengelola risiko finansial masa depan. Keamanan Finansial: Mengenali berbagai modus penipuan (scam) dan cara mencegah pencurian identitas. Penganggaran (Budgeting): Cara bikin anggaran bulanan dan memantau pengeluaran. Perencanaan Kuliah/Karier: Strategi membiayai kuliah/vokasi, memanfaatkan opsi community college murah, hingga program magang dan jalur teknis. Ternyata, Anak-Anak Muda Justru Sangat Berminat! Mungkin dipikir pelajaran keuangan bakal ngebosenin, tapi kenyataannya justru sebaliknya! Sebagaimana artikel yang dilansir oleh Media EdSource, menyatakan bahwa beberapa sekolah di California sebenarnya sudah mencoba meluncurkan kelas ini lebih awal. Di Fresno Unified (distrik sekolah terbesar ketiga di California), kelas literasi keuangan pribadi yang dirintis sejak 2023 justru menjadi salah satu mata pelajaran paling dicari dan populer. Para siswa sangat antusias, terutama saat mempelajari materi tentang: Strategi perencanaan pensiun & investasi Trik menabung dan bikin anggaran Cara membangun skor kredit yang bagus Gerakan Besar di Seluruh Amerika Serikat Langkah California ini didukung penuh oleh Next Gen Personal Finance, sebuah organisasi nirlaba yang menyediakan kursus daring dan pelatihan gratis bagi ribuan guru. Saat ini, gerakan literasi keuangan ini terus meluas di Amerika Serikat: 11 negara bagian sudah menerapkan mata pelajaran ini secara penuh. 19 negara bagian (termasuk California) sedang dalam tahap persiapan penerapan. Total ada 30 negara bagian yang sudah sepakat untuk membekali generasi muda mereka dengan ilmu keuangan pribadi. (*) *) Sumber Rujukan Data: Kebijakan Literasi Keuangan California (Disahkan 2024, Efektif 2027) & Inisiatif Next Gen Personal Finance.
Pentingnya Membangun Kepercayaan Diri Anak Sejak Masih Kecil
SPEAKTREE.ID – Kepercayaan diri bukanlah sifat bawaan lahir yang muncul begitu saja saat seseorang dewasa, melainkan fondasi psikologis yang dibangun sejak masa kanak-kanak. Ibarat membangun sebuah rumah, masa kecil adalah fase pemasangan fondasi: jika kuat dan kokoh, fondasi karakter anak di masa depan akan tahan terhadap goncangan dinamika kehidupan. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa pembentukan kepercayaan diri harus dimulai sejak dini: 1. Mendorong Keberanian dalam Eksplorasi dan Belajar Anak yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sehat lebih berani mencoba hal baru tanpa takut gagal secara berlebihan. Rasa percaya diri memberikan mereka keyakinan bahwa kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar, bukan sinyal bahwa mereka tidak berharga. 2. Membentuk Ketahanan Mental (Resilience) Kehidupan selalu diwarnai dengan tantangan, penolakan, dan kekecewaan. Anak-anak yang diajarkan untuk percaya pada kemampuan diri sendiri sejak kecil cenderung lebih tangguh (resilient). Mereka lebih mudah bangkit dari kegagalan karena memiliki keyakinan internal bahwa mereka mampu menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. 3. Membangun Keterampilan Sosial yang Sehat Rasa percaya diri mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan orang lain. Anak yang percaya diri lebih mudah mengekspresikan pendapat, menetapkan batasan (boundaries), serta menjalin hubungan pertemanan yang positif tanpa merasa harus selalu menyenangkan orang lain secara berlebihan (people pleasing). 4. Mencegah Dampak Buruk Perundungan (Bullying) Anak-anak dengan pondasi kepercayaan diri yang kuat lebih sulit digoyahkan oleh perundungan atau kritik destruktif dari lingkungan sekitarnya. Mereka memahami nilai diri (self-worth) mereka sendiri, sehingga tidak mudah merasa inferior atau terintimidasi. Cara Praktis Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anak Berikan Pujian pada Proses, Bukan Hanya Hasil: Alih-alih hanya memuji hasil akhir, beri apresiasi pada usaha dan strategi yang anak gunakan. Contoh: “Ibu bangga kamu terus mencoba menggambar ini sampai selesai,” bukan sekadar “Kamu pintar sekali.” Beri Ruang untuk Membuat Keputusan: Izinkan anak memilih hal-hal kecil, seperti pakaian yang ingin dikenakan atau kegiatan di akhir pekan. Ini memberikan mereka rasa kepemilikan dan kendali atas hidupnya. Toleransi terhadap Kesalahan: Jadikan kesalahan sebagai momen pembelajaran tanpa menghakimi. Hindari memberi label negatif seperti “penakut” atau “ceroboh”. Beri Tanggung Jawab Sesuai Usia: Melibatkan anak dalam tugas-tugas rumah tangga kecil memberi mereka perasaan berguna dan mampu (capable). Salah satu cara mengajarkan kepercayaan diri anak, Abdillah- Pegiat Speaktree, menambahkan bahwa dalam mengajarkan pelajaran anak-anak peserta didalam kelas, sebaiknya selaku guru atau pembimbing memberikan kepercayaan kepada anak-anak berargumen, memberikan waktu mereka untuk mengajukan pendapat, sanggahan atau kepedulian terhadap tema tertentu, bukan hanya berbicara di meja mereka namun berikan waktu menjelaskan didepan kelas dengan menggunakan papan tulis untuk lebih lanjut mengapresiasi pendapat mereka. Hal ini bisa menambah keyakinan anak peserta kelas dan terbiasa berbicara didepan forum. Investasi dalam kepercayaan diri anak hari ini adalah cara terbaik untuk memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berani, dan siap menghadapi tantangan dunia di masa depan. Sumber: Internet
Discussion Topics: Smoking Behaviour in Adolescents and Factors That Influence It
Summary & Context Adolescent smoking remains a critical public health challenge worldwide. The transition from childhood to young adulthood represents a vulnerable developmental window characterized by identity exploration, sensation-seeking, and heightened sensitivity to social dynamics. While traditional cigarette consumption among youth has fluctuated due to anti-tobacco policies, the rapid rise of alternative nicotine delivery systems (e.g., e-cigarettes, vapes) has reshaped youth nicotine intake patterns. Understanding youth smoking requires a multidimensional socio-ecological framework that accounts for individual psychological states, peer pressure, parental dynamics, marketing exposure, and regulatory access. Core Determinants Framework Selected Research Articles for Seminar Discussion Theme Article Reference & Key Focus Core Findings / Theoretical Angle Cognitive & Behavioural Factors Social Cognitive Theory (SCT) in Adolescent Tobacco Use (e.g., Frontiers in Public Health, 2023) Evaluates how positive outcome expectations (e.g., stress relief, weight control) and self-efficacy determine smoking experimentation vs. habitual use. Peer & Social Dynamics Peer Influence & Descriptive Norms in Youth Smoking (e.g., BMC Public Health / Journal of Public Health) Shows that perceived peer acceptance and friend group smoking status are among the strongest single predictors of youth initiation. Family & Domestic Environment Parental Smoking and Domestic Rules (e.g., JKEP / Public Health Studies) Examines how parental smoking modelling increases adolescent smoking likelihood significantly (Odds Ratios typically between 1.4x to 2.8x). Policy, Retail & Digital Exposure Determinants of Youth Tobacco Access & Marketing (e.g., Journal of Global Research in Public Health) Analyses how proximity to tobacco retailers, low enforcement of age limits, and targeted social media marketing facilitate early access. Key Questions for Class Discussion Section A: Psychological & Individual Drivers Knowledge vs. Behaviour: Most adolescents are aware that smoking causes severe health risks. Why does knowledge alone fail to prevent smoking experimentation? Mental Health & Coping: How does stress or emotional distress contribute to nicotine initiation, and what alternative coping mechanisms could school programs offer? Section B: Peer & Parental Influences Descriptive Norms: Adolescents often overestimate how many of their peers smoke. How can “social norm correction” campaigns be designed effectively in schools? Parental Role Models: Should smoking prevention programs target parents as much as students? What strategies work when an adolescent lives with a parent who smokes? Section C: E-Cigarettes, Marketing & Policy The Vape Transition: How do the marketing tactics for e-cigarettes (Flavors, discreet devices, social media ads) differ from traditional tobacco ads, and how do they alter adolescent perception? Policy Enforcement: Retail access remains a major driver. Between strict retail penalties, taxation, and school-based bans, which policy intervention yields the highest impact?
Pentingnya Membangun Kepercayaan Diri Berbahasa Asing di Usia Dini
MAKASSAR, SPEAKTREE — Membangun kepercayaan diri anak dalam berbahasa Inggris memerlukan pendekatan yang bertahap, menyenangkan, dan bebas dari rasa takut akan kesalahan. Bagi anak usia sekolah, bahasa asing sering kali terasa menakutkan jika diperkenalkan dalam suasana yang terlalu formal atau kaku. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kepercayaan diri sangat penting bagi anak usia dini dalam belajar bahasa asing: – Menghilangkan Rasa Takut Berbuat Salah Anak-anak yang percaya diri tidak terbeban dengan ketakutan akan tata bahasa (grammar) yang salah atau pengucapan (pronunciation) yang keliru. Eksperimen Alami: Mereka berani mencoba kata-kata baru tanpa khawatir dinilai. Proses Alami: Bahasa dipelajari melalui trial and error. Tanpa rasa takut, frekuensi anak untuk mencoba menjadi jauh lebih tinggi. – Memaksimalkan Periode Kritis (Language Acquisition) Anak usia dini menyerap bahasa asing melalui metode yang mirip dengan bahasa ibu (pemerolehan bahasa, bukan sekadar menghafal aturan). Kepercayaan diri mendorong anak untuk langsung menggunakan bahasa tersebut dalam interaksi harian (bermain, menyanyi, menyapa). Rasa percaya diri menjaga minat dan kepolosan khas anak-anak agar tetap terbuka terhadap kosakata dan bunyi bahasa baru. – Mendorong Interaksi Sosial dan Komunikatif Bahasa adalah alat komunikasi. Anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi akan lebih aktif: merespons instruksi atau pertanyaan dalam bahasa asing, berinteraksi dengan teman sebaya atau pengajar, mengekspresikan emosi dan kebutuhan mereka tanpa ragu. – Membangun Resiliensi dan Kemampuan Beradaptasi Ketika anak percaya diri, umpan balik (feedback) atau koreksi dari orang dewasa tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari permainan dan pembelajaran. Ini membentuk mentalitas tumbuh (growth mindset) sejak dini. – Membentuk Sikap Positif Terhadap Pembelajaran di Masa Depan Pengalaman belajar bahasa asing yang menyenangkan dan penuh rasa percaya diri di usia dini menciptakan asosiasi positif terhadap belajar. Anak tidak menganggap bahasa asing sebagai beban atau pelajaran yang menakutkan saat mereka memasuki jenjang pendidikan formal nantinya. Nah! Berikut adalah beberapa tips praktis yang dapat diterapkan untuk membantu anak tumbuh lebih percaya diri saat berinteraksi menggunakan bahasa Inggris: Ciptakan Zona “Bebas Takut Salah” (Mistake-Friendly Environment) Penghambat terbesar anak dalam berbicara bahasa Inggris adalah rasa takut diejek atau disalahkan ketika keliru. Fokus pada Komunikasi, Bukan Tata Bahasa: Saat anak mencoba berbicara, prioritaskan pemahaman pesan daripada koreksi grammar secara langsung. Koreksi Secara Halus: Jika anak mengucapkan “He go to school,” hindari memotong dengan kata “Salah!”. Cukup ulangi ucapan mereka dengan bentuk yang benar dalam respons alami: “Oh, yes! He goes to school every morning.” Mulai dari Kosakata Harian dan Rutinitas Singkat Mengajarkan bahasa Inggris tidak harus selalu lewat buku pelajaran. Gunakan benda-benda dan situasi di sekitar anak. Gunakan Label Benda: Menempelkan kartu kata (flashcards) pada benda-benda rumah seperti door, table, atau refrigerator membantu membangun ingatan visual. Rutinitas Singkat: Sediakan 10–15 menit setiap hari sebagai “English Time”, misalnya saat sarapan atau sebelum tidur, untuk menanyakan hal-hal sederhana seperti “How was your day?” atau “What do you want to eat?”. Manfaatkan Media Interaktif dan Cerita Anak-anak menyerap bahasa lebih mudah melalui media yang menarik perhatian mereka. Buku Cerita Bergambar: Bacakan buku cerita bahasa Inggris bersamamu (shared reading). Mintalah anak menebak alur cerita berdasarkan gambar atau menirukan suara karakter. Lagu dan Film: Musik dan animasi membantu melatih pendengaran (listening) serta pengucapan (pronunciation) secara alami tanpa beban. Gunakan Metode Pembelajaran Bertahap (Scaffolding) Gunakan pendekatan berjenjang agar anak tidak merasa kewalahan: Level Dasar (Pengenalan): Fokus pada penambahan kosakata (vocabulary) dan ungkapan dasar sehari-hari. Level Menengah (Praktik Terstruktur): Ajak anak menyusun kalimat pendek melalui permainan peran (role-play) sederhana, seperti berpura-pura menjadi kasir dan pembeli. Level Lanjut (Ekspresi Diri): Berikan ruang bagi anak untuk menceritakan pengalaman pribadi atau pendapat mereka secara bebas. Berikan Apresiasi pada Proses, Bukan Hanya Hasil Pujian yang spesifik dapat meningkatkan self-esteem anak secara signifikan. Hindari pujian umum seperti “Kamu pintar!”. Gunakan pujian atas usaha mereka, contohnya: “I love how brave you were when speaking in English today!” atau “Pilihan kata yang bagus sekali tadi!”. Catatan Kunci: Kunci utama dari kelancaran berbahasa adalah konsistensi dan kenyamanan. Ketika anak merasa aman untuk berekspresi tanpa takut dihakimi, kepercayaan diri mereka akan tumbuh secara alami seiring berjalannya waktu. (**) Penulis: Abdillah Khomeini
Tips Menghindari Pengubahan Nama di Dokumen Resmi Berulang-Ulang
SPEAKTREE — Beberapa hari terakhir ini, sebelum terbitnya artikel ini, Saya masih mengurus administrasi Bapak yang meninggal bulan lalu. Saat mengurus rekening beliau di salah satu perbankan, ternyata bukan hal yang mudah. Ada beberapa temuan perbedaan penulisan nama, baik nama orang tua maupun para ahli waris di berbagai dokumen resmi seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), akta nikah, Kartu Keluarga (KK) orang tua, ataupun KK anak jika sudah pisah Kartu Keluarga. Mengurus perubahan nama di dokumen resmi secara berulang-ulang itu memang menguras waktu, tenaga, dan biaya. Untuk bolak-balik mengurus di kantor lurah, kecamatan, atau di Dinas Kependudukan. Hal ini juga nantinya memudahkan kita sebagai orang tua dan anak yang berada di tempat yang berbeda-beda di masa mendatang tidak kesulitan dalam hal administrasi ini. Dari peristiwa diatas, ada beberapa pelajaran yang perlu Saya bagikan agar nantinya bisa terhindar dari pengurusan dokumen yang berulang-ulang. 1. Tetapkan Satu “Dokumen Master” sebagai Acuan Pilihlah satu dokumen hukum tertinggi yang datanya 100% benar sebagai kompas utama Anda. Biasanya, dokumen yang menjadi acuan mutlak adalah Akta Kelahiran. Pastikan ejaan nama, tempat lahir, dan tanggal lahir kita baik di KTP dan KK sama dengan yang tertera di Akta Kelahiran, termasuk nama orang tua yang tersebut di KK kita. Saat mengurus dokumen lain seperti Paspor, Ijazah dan lainnya, selalu tunjukkan Akta Kelahiran ini sebagai dasar penulisan. 2. Selalu Cek Draf (Draft) Sebelum Dicetak Banyak kesalahan terjadi karena petugas salah ketik (typo) dan pemohon langsung menandatanganinya tanpa membaca ulang. Minta Petugas Menunjukkan Layar/Draf: Sebelum dokumen resmi dicetak atau dilaminating, mintalah petugas dinas (seperti Dukcapil atau Imigrasi) untuk memperlihatkan draf data Anda di layar monitor atau lembar verifikasi. Cek Huruf per Huruf: Periksa ejaan yang rawan salah, seperti penggunaan huruf F/V (Fitri/Vitri), Z/J (Zulkifli/Julkifli), double konsonan, atau penggunaan tanda petik (‘). 3. Hindari Menggunakan Nama Singkatan atau Gelar Formal & non-Formal Dalam dokumen kependudukan baku seperti KTP dan KK, hindari memasukkan singkatan yang tidak jelas atau gelar jika tidak mendesak. Gelar Haji atau Gelar kesarjanaan S1-S3 pun, jika terpasang pada KK atau KTP akan bermasalah nantinya jika berurusan administrasi perbankan karena berbeda dengan yang tertera pada Akta Kelahiran. Singkatan seperti “Muh.” untuk Muhammad atau “Ch.” untuk Christian sering kali memicu masalah di kemudian hari karena di dokumen lain ditulis lengkap. Tuliskan nama secara lengkap sesuai Akta Kelahiran. 4. Sinkronisasikan Dokumen Pendukung Lain secara Serentak Jika Anda memang harus mengubah nama sekali (misalnya karena keputusan pengadilan atau pernikahan), jangan menunda-nunda untuk memperbarui dokumen lainnya. Jika terdapat perbedaan minor pada KTP, KK dengan yang tercantum di Akta Kelahiran, maka segeralah mengurus Surat Keterangan Beda Nama di Kelurahan untuk sementara selanjutnya ke Dukcapil untuk perubahan pada basis data kependudukan Begitu KTP dan KK baru terbit dengan nama yang benar, segera urus pembaruan pada Buku Tabungan, NPWP, BPJS, dan Paspor. Jika ditunda, perbedaan data di dokumen-dokumen ini akan menumpuk dan memicu penolakan saat Anda mengurus administrasi penting (seperti visa atau KPR). 5. Manfaatkan Fitur Dokumen Digital (Satu Data) Saat ini pemerintah semakin mengintegrasikan data ke sistem digital (seperti Identitas Kependudukan Digital atau IKD). Pastikan data Anda di aplikasi resmi pemerintah sudah sinkron. Jika ada perbedaan minor (misalnya spasi atau huruf kapital), segera laporkan ke Dukcapil setempat agar diperbaiki di sistem pusat, sehingga tidak merembet ke dokumen turunan lainnya. Catatan Penting: Jika perbedaan nama Anda hanya terletak pada ejaan lama/baru (seperti Soedirman menjadi Sudirman) atau salah ketik satu huruf di KTP/KK, Anda biasanya cukup mengajukan Pemberkasan Perubahan Data di Dukcapil tanpa perlu sidang pengadilan. Namun, jika mengubah total nama depan atau belakang, Anda wajib mendapatkan Penetapan Pengadilan Negeri terlebih dahulu agar perubahan tersebut sah secara hukum dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
Pentingnya Peran Bahasa Inggris Saat Ini
Indonesia, SpeakTree — Bahasa Inggris bukan lagi sekadar bahasa asing, melainkan keterampilan literasi abad ke-21 yang menjadi pintu utama bagi anak-anak Indonesia untuk menavigasi masa depan. Mengingat “Indonesia sedang gencar memperkuat posisinya di kancah ekonomi global”, penguasaan bahasa Inggris bagi generasi muda menjadi faktor penentu daya saing bangsa.Bukan Berarti, meninggalkan budaya, adat istiadat, dan cita-cita bangsa/Negara Indonesia. Dengan semboyan “BHINEKA TUNGGAL IKA”. Berikut adalah uraian mengenai pentingnya kursus bahasa Inggris sebagai investasi strategis masa depan anak dalam menghadapi tantangan ekonomi global: 1. Membuka Akses terhadap Ilmu Pengetahuan (Knowledge Gateway) Dunia ekonomi global bergerak sangat cepat, didorong oleh inovasi teknologi dan sains. Sebagian besar literatur, riset, dan kursus daring (seperti dari Coursera, edX, atau MIT OpenCourseWare) menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama. Dampaknya: Anak yang menguasai Bahasa Inggris memiliki “perpustakaan dunia” di ujung jarinya. Mereka bisa mengakses informasi terbaru jauh sebelum informasi tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. 2. Standar Kompetensi di Pasar Kerja Masa Depan Ekonomi Indonesia ke depan akan semakin terintegrasi dengan pasar global. Perusahaan multinasional dan startup berlevel internasional akan menjadi pemain utama. Dampaknya: Kemampuan bahasa Inggris adalah syarat mutlak untuk masuk ke industri bernilai tambah tinggi. Ini bukan hanya soal mampu berkomunikasi, tapi soal kemampuan bernegosiasi, presentasi, dan kolaborasi lintas budaya di lingkungan kerja yang multikultural. 3. Mendaftaran LPDP secara Online. Kapan Anda WAJIB Mengunggah Sertifikat Bahasa? Jika Anda belum memiliki LoA Unconditional, Anda wajib melampirkan sertifikat bahasa Inggris yang masih berlaku. Pilihan tes yang diakui LPDP saat ini semakin bervariasi, antara lain: TOEFL iBT IELTS PTE Academic Duolingo English Test (kini sah untuk pendaftar luar negeri) TOEP (Tes of English Proficiency) Tes kemampuan bahasa Inggris dari Pusat Bahasa perguruan tinggi dalam negeri (sesuai daftar yang ditentukan LPDP) 4. Mengatasi Tantangan Ekonomi Global Indonesia Indonesia saat ini sedang mengejar status sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia. Tantangan utamanya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu bersaing dengan negara-negara lain. Dampaknya: Dengan menguasai bahasa Inggris, anak-anak Indonesia tidak akan hanya menjadi “penonton” atau “pengguna” di pasar domestik, melainkan mampu menjadi “pemain” yang mengekspor jasa, ide, dan produk mereka ke pasar dunia. Ini adalah kunci agar kita bisa keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle-income trap). 5. Membangun Kepercayaan Diri (Confidence & Soft Skills) Bahasa adalah alat untuk menyampaikan gagasan. Anak yang mampu mengekspresikan pemikirannya dalam Bahasa Inggris akan memiliki kepercayaan diri lebih tinggi untuk berinteraksi dengan siapa saja di dunia. Dampaknya: Kepercayaan diri ini adalah soft skill yang sangat krusial dalam dunia ekonomi yang mengutamakan kreativitas, kepemimpinan, dan jejaring (networking). Analisis Tantangan: Mengapa Kursus Tetap Diperlukan? Meskipun sekolah formal mengajarkan Bahasa Inggris, kursus bahasa Inggris tetap menjadi pelengkap yang krusial karena: Personalisasi: Kursus biasanya menawarkan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan fokus pada speaking (berbicara), sementara kurikulum sekolah sering kali lebih fokus pada tata bahasa (grammar) untuk tujuan ujian. Lingkungan Praktik: Kursus yang baik menyediakan ruang aman bagi anak untuk membuat kesalahan dan mencoba berbicara tanpa merasa dihakimi. Eksposur Dunia Nyata: Banyak kursus modern kini mengintegrasikan keterampilan abad ke-21 seperti critical thinking dan digital literacy ke dalam materi bahasa Inggris mereka. Untuk kalian di Kota Pinrang, dengan usia 9 hingga 19 tahun atau Bapak/Ibu yang memiliki anak, bisa datang ke Tempat kursus Bahasa Inggris bernama SPEAKTREE di Jl. Serigala (samping jembatan), atau bisa mendapatkan informasi di website ini. Sumber: Internet/Facebook